AWAK Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiagakan satu unit helikopter jenis Dauphin untuk aktivitas pemantauan dan segala jenis kegiatan lainnya yang dianggap perlu dalam penanganan jika terjadi erupsi Gunung Merapi.

Hal itu disampaikan Kepala BNPB, Doni Monardo masa melakukan kunjungan kerja ke Dewan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan dan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta. Doni memonitor dan mendapatkan data terkait peningkatan status Gunung Merapi yang telah ditetapkan menjadi Golongan III atau Siaga.

Menurut Doni, helikopter itu dapat digunakan oleh Pemerintah Daerah yang mencakup wilayah tata laksana Gunung Merapi. “Kami dari BNPB akan menempatkan helikopter di sini, yang bisa mungkin nanti dimanfaatkan oleh Gubernur DI Yogyakarta serta Gubernur Jawa Tengah untuk memantau perkembangan Gunung Merapi, ” sekapur Doni, Kamis (19/11).

Lebih lanjut taat Doni, helikopter tersebut kemudian mau dititipkan kepada jajaran TNI & disiagakan di Lanud Adi Sucipto Yogyakarta. “Nanti akan diatur oleh TNI, ” jelasnya.

Dalam hal itu, Doni berharap, nantinya penggunaan helikopter untuk pemantauan dan peninjauan kedudukan Gunung Merapi juga dilakukan oleh tim dari Badan Geologi maupun BPPTKG. Sehingga, informasi yang cermat dari para tim ahli kemudian dapat digunakan untuk memberikan penanganan dan kegiatan lain dalam memitigasi potensi ancaman bahaya erupsi Bukit Merapi.

“Mungkin pada saat Gubernur melayani peninjauan, mungkin juga bisa diikuti oleh tim Badan Geologi, ” ujar Doni.

Adapun penempatan helikopter BNPB tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa Pemerintah Pusat hadir dalam rancangan memitigasi dan penanganan bencana daerah serta memberikan pelayanan untuk asosiasi. Hal itu sebagaimana arahan daripada Presiden Joko Widodo yang menekankan bahwa keselamatan rakyat harus menjelma hukum yang tertinggi.

“Solus Populi Suprema Lex, keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Sehingga semua rencana-rencana dengan berhubungan dengan antisipasi erupsi Bukit Merapi harus kita lakukan sebaik mungkin, agar mengurangi risiko, terutama korban jiwa, termasuk juga kemalangan harta benda, ” terang Doni.

Zaman ini, status aktivitas Gunung Merapi naik menjadi Level III ataupun Siaga sejak Kamis (5/11). Patuh informasi dari BPPTKG, aktivitas Gunung Merapi pada  2020 diprediksi mempunyai kesamaan dengan erupsi 2006 silam.

Acara Gunung Merapi tahun ini berpotensi memicu terjadinya guguran lahar radang akan tetapi diperkirakan tidak mau lebih buruk dari erupsi 2010. Hanya saja, BPPTKG menganggap bahwa hal tersebut tetap perlu diantisipasi oleh berbagai pihak terkait untuk situasi dan kondisi tertentu yang dapat terjadi ke depannya.

Selain tersebut, BPPTKG juga menjelaskan bahwa Gunung Merapi saat ini memiliki daya erupsi dengan jenis letusan efusif, yakni lava dari letusannya mengalir terus dari gunung ke desa, dan berpotensi meletus secara eksplosif, di mana magma yang terfragmentasi dengan keras kemudian dikeluarkan secara cepat dari kawah gunung.

Sehingga di dalam hal ini, BPPTKG memberikan rekomendasi untuk wilayah radius 5 kilometer dari puncak kawah Merapi biar dikosongkan dari segala jenis kegiatan manusia dan tidak boleh ditinggali oleh penduduk. Hal itu dimaksudkan agar apabila kemudian Gunung Merapi meletus sewaktu-waktu, maka tidak terjadi korban jiwa maupun kerugian harta benda. (R-1)