JOHN Leyden, penyair asal Skotlandia, adalah infantri Inggris Raya prima yang menginjakkan kakinya di Jawa. Menyusul kemudian Rollo Gillespie, seorang kolonel dari Irlandia. Mereka searmada dengan seorang yang kemudian menjadi legenda di negara ini; Thomas Stamford Raffles. Raffles adalah wujud yang membuat kita ‘menyesal’ dalam kemudian hari. Penyesalan itu ialah; mengapa Belanda yang menjajah kita beratus-ratus tahun dan bukannya Inggris? Andai saja Inggris yang menjajah, kemungkinan besar kita akan lulus, setidaknya seperti Malaysia dan Singapura, begitulah kita berkilah.

Mengapa Indonesia ‘maju’ dalam jajahan Raffles? Jawaban normatifnya adalah visi dan misi. Tetapi, satu hal yang jauh bertambah penting dari visi dan urusan itu adalah mesin penggerak buat mencapai visi-misi tersebut. Mesin tersebut adalah hati dan otak. Oleh sebab itu, melihat mengapa Raffles ‘berhasil’ menjajah Indonesia berarti juga kita harus melihat situasi hati dan nalar Raffles. Apakah bernafsu, berambisi kuat, tertekan oleh atasan atau tak?

Tersebut perlu diketahui karena jika akal kita penuh ambisi, apalagi ambisi, gerakan kita akan cenderung didominasi naluri kebinatangan. Apabila tertekan, laksana kata Daniel Coleman, kemampuan berputar rasional kita pun akan memudar. Bagaimana perasaan Raffles? Dalam rencana hariannya (Tim Hannigan, Raffles serta Invasi Inggris ke Jawa situasi. 14, 2015), setibanya di Jawa, Raffles menuliskan, “Salah satu zaman ketika aku merasakan kebahagiaan setinggit-tingginya yang bisa dirasakan manusia, lupa satu momen yang menginspirasi tumbuh. ”

Bukan cemas karena bergandengan

Terang sudah, bahwa Raffles sangat mencintai Jawa, bahkan menjadikannya sebagai inspirasi hidupnya. Raffles begitu menikmati Jawa dan menjadi ladangnya untuk berkarya meski pada masa tersebut, Jawa sangat kejam; kemampuan berdiam hidup di sana sangat berhantu, di bawah 50%. Namun, Raffles menikmatinya hingga kemudian hutan, desa, jalan-jalan, sungai menjadi tempatnya bersekolah. Alam menjadi laboratoriumnya. Jadi, ialah tak mengherankan jika pada alhasil, Raffles pun dikenal sebagai penemu ulung.

Saya pikir, dari sepenggal dongeng Raffles di atas, kita bisa membuat sebuah simpulan bahwa sejahtera adalah kunci. Jika mengerjakan objek dengan bahagia, hasilnya juga bakal membahagiakan. Kerjakanlah sesuatu yang rumit tanpa mengeluh karena bahagia telah menanti di ujung jalan. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke pinggiran, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Begitulah nasihat leluhur kita. Nasihat tersebut mengandung arti bahwa kebahagiaan itu tidak terletak pada derita barang apa yang kini melekat pada kita, namun lebih pada mimpi barang apa yang akan kita raih.

Itulah kiranya mengapa pejuang negara ini— meski berpeluh darah melawan bangsa kolonial yang menggunakan meriam, bom, serta pesawat tempur— tetap berani maju hanya berbekal pentungan dan buluh runcing. Mimpinya adalah bahagia; terlepas dari Belanda lalu bisa mengerjakan tanah sendiri dengan sanak saudara. Sebab, kebahagiaan ialah kunci berhubungan. Sonja Lyubormirsky, profesor psikologi pada University of California dalam Myth of Happines sudah menyimpulkan hal tersebut. Lyubormirsky menyebut bahwa bahagia tak berhubungan dengan kekayaan materi, tetapi pada hubungan antara sesama Itulah mimpi bersama.

Dengan kata lain, yang membebaskan negeri ini dari penjajahan adalah kebersamaan. Maka, jika saat ini hal itu mulai tergerus, kita harus khawatir; apakah kelak bujang cucu kita akan saling menerjang sehingga penjajah datang lagi, lalu kita bercerai? Semoga tidak. Namun, menyemogakan saja tak akan mengganti dunia ini. Perlu langkah-langkah teknis dan terukur. Maksud saya, kita harus segera membiakkan rasa pertalian kepada anak cucu kita sejak dari sekarang. Anak cucu adalah masa depan negeri ini.

Di manakah anak cucu itu? Mereka berserak di mana-mana. Titik kumpulnya tidak teratur, bahkan makin terpisah pada masa pandemi. Jika dulu kita masih bisa berkumpul dengan permain tradisional, kini anak cucu kita sudah bermain dengan cara-cara sendiri. Mereka sudah terasingkan dari sesamanya. Dunia permainan melalui gim mendirikan mereka tak saling mengenal. Tunggal titik kumpul mereka kini adalah sekolah (maya). Karena itu, sekolah sejatinya merupakan tempat strategis buat mengajari mereka tentang pentingnya sejahtera dengan sesama, bukan cemas sebab bersama.  

Namun, bagaimana keadaan sekolah kita sekarang? Apakah sekolah kita masih kental dengan kesukacitaan bergabung? Ini perlu ditanyakan karena, lagi-lagi, kebersamaan adalah kebahagiaan. Kebersamaan ialah kuncinya. Dalam hal ini, Norwegia bisa menjadi rujukan. Negara paling bahagia keempat menurut PBB itu mengandalkan kebersamaannya. John Helliwell dari British Columbia University menyebutkan kalau di Norwegia, jika Anda mengecat rumah, tetangga akan datang membantu. Mereka bisa membayar tukang cet, tetapi mereka lebih suka melakukannya bergotong royong.

Bilakah?

Sesungguhnya, barang apa yang dilakukan Norwegia telah dikerjakan oleh leluhur kita. Ringan serupa dijinjing, berat sama dipikul, sejenis kita dinasihati. Namun, kebersamaan seolah-olah ini sudah mulai hilang. Telah ada gejala kebencian di jarang kita. Sangat bisa dibayangkan, jika lingkungan (sesama) sudah dianggap jadi musuh, bagaimana bangsa ini bakal maju? Bagaimana siswa akan melancarkan dengan suka cita jika teman sebangkunya dianggap musuh? Alih-alih fokus belajar, siswa malah akan pokok membenci, lalu mengusir teman sebangku.

Kalau ini terjadi, skema buruk bakal timbul; sekolah bukan lagi tempat untuk membiakkan pengetahuan, apalagi pertalian. Sekolah akan menjadi ladang antipati, bahkan kebodohan. Pada saat tersebut, bersekolah bukan lagi bersukacita. Padahal, bersekolah semestinya bersukacita. Bersekolah sepantasnya menjadi pembelajaran hidup bagaimana suka bersama, bukan benci karena bergabung. Bersekolah harusnya seperti Raffles; meski menghadapi alam Jawa yang sewenang-wenang, tetapi ia menyambutnya sebagai jodoh akrab. Andai saja sekolah kita penuh keintiman, peserta didik hendak belajar dengan suka cita.

Alam yang ‘kejam’ akan menjadi laboratorium berarakan lahirlah penemuan-penemuan hebat dari Nusantara. Siswa Indonesia akan menjadi pencipta seperti Raffles. Siswa bahagia dengan penemuannya, dan kita pun merayakannya dengan sukacita. Sayang, di era pandemi ini, kita seperti jauh dari kebahagiaan. Guru terdesak melaksanakan dan mencetak banyak laporan. Pengampu gerah karena merasa terbebani buat menjadi ‘guru’ di rumah. Siswa tertekan karena banyak tugas dari sekolah, sementara pada saat dengan sama, interaksi guru dengan anak, juga siswa dengan siswa lainnya tak memadai. Bersekolah dengan sejahtera menjadi antonim.