FASILITAS Rumah Sakit (RS) di DKI Jakarta yang menghantam covid-19 semakin penuh. Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi NasDem Ahmad Lukman Jupiter mendorong rumah melempem di DKI Jakarta fokus mengatasi pasien covid-19 dengan gejala berat. Sementara, untuk pasien tanpa petunjuk atau gejala ringan ditangani dalam fasilitas lain yang disediakan khusus untuk isolasi mandiri.

“Saya sepakat kalau RS itu khusus untuk pengerjaan pasien yang bergejala berat. Karena mengingat kondisi RS khususnya Panti Sakit Umum Daerah (RSUD) itu saya cek kemarin sudah dekat penuh, ” kata Jupiter masa dihubungi Media Indonesia, Jumat (18/9).

Selain dari sisi fasilitas kesehatan, taat Jupiter, saat ini tenaga kesehatan tubuh seperti perawat pun sudah cacat. Hal ini sudah dikonfirmasi oleh beberapa direktur RSUD seperti telah terjadi kekurangan perawat di RS Tarakan, RS Koja, dan asing sebagainya.

“Bahkan perawat saja itu aib dan itu sudah dikonfirmasi sebab direktur-direktur RSUD yang ada di RS Tarakan, Koja, dan lainnya, ” jelasnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menodong rumah sakit di ibu tanah air fokus menangani pasien bergejala berat. Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara (Jubir) Menko Maritim dan Investasi Jodi Mahardi.

Baca serupa:   Luhut Minta RS pada DKI Fokus Rawat Pasien Fakta Berat

Ia mengatakan, dari bukti yang dimiliki pihaknya, di DKI Jakarta 50% pasien covid-19 ialah orang tanpa gejala (OTG) serta 35% adalah memiliki gejala ringan-sedang. Luhut, kata Jodi, meminta Pemprov DKI untuk menempatkan pasien secara gejala ringan atau sedang lakukan isolasi mandiri.

“Pasien diisolasi atau bisa ditangani di Wisma Atlet, yang saat ini kapasitasnya masih luhur dan bisa ditingkatkan kembali, ” jelas Jodi.

Luhut yang ditunjuk Kepala Joko Widodo menangani kasus covid-19 di sembilan provinsi termasuk DKI sudah memerintahkan para gubernur untuk membangun tempat karantina pasien covid-19.

Tetapi, untuk menyediakan fasilitas karantina ataupun isolasi mandiri tidak perlu melangsungkan pembangunan gedung baru. Karena cuma akan membuang anggaran daerah saja. Karena saat ini pun khusus DKI Jakarta masih banyak lokasi yang bisa digunakan. Seperti Rusunawa yang ada di Cengkareng, morat-marit Rusah Susun dengan DP 0% yang masih kosong dan sudah terbangun 100%, ada pula gedung-gedung olahraga yang tersebar di Jakarta yang bisa ditempati.

“Jadi saya rasa untuk fasilitas-fasilitas yang ada pada Pemprov DKI masih banyak yang bisa digunakan. Termasuk yang tersedia di gedung olahraga di GOR di Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara. Saya rasa tidak perlu ada pembangunan baru sebab itu hanya membuang-membuang anggaran tersebut yang pertama. Kedua, dari bagian waktu pada saat membangun gedung baru itukan butuh waktu serta proses, ” pungkasnya. (OL-5)