BIAYA jasa pengelolaan sumber gaya air (BJPSDA) berperan penting di dalam upaya konservasi. Ini untuk menggembala ketahanan dan keberlanjutan sumber daya air di Indonesia.

“Saya kira prinsipnya yaitu BJPSDA dari air harus kembali ke air. Prinsip itu betul dan harus dikawal dengan baik, ” ujar pengamat sumber daya air (SDA) dari Universitas Brawijaya Pitojo Tri Juwono masa dihubungi di Jakarta, Jumat (6/11).

Menurut dia, ketika BJPSDA dibayarkan oleh pemanfaat air, iuran ini memiliki peran untuk membiayai konservasi dan pengekalan SDA. Ini sekaligus memastikan kalau sungai memberikan proses pelayanan dengan berkelanjutan kepada semua pemanfaat cairan.

Pemanfaat air yang dimaksud dan dikenakan BJPSDA, semisal para pemanfaat minuman baku dari sektor industri, PDAM, dan pembangkit listrik tenaga minuman. Pitojo mengungkapkan bahwa sebenarnya bagian pengelolaan SDA yang komprehensif di Indonesia, dimulai dari hulu yakni konservasi.

Aspek konservasi merupakan perlindungan serta pelestarian dari daerah tangkapan abu maupun sungainya. Di sini pendekatannya bisa infrastruktur, struktural, maupun nonstruktural.

Aspek kedua tentu dikembangkan infrastruktur yang bersifat pendayagunaan dan pengelolaan daya dari SDA berbasis ramah lingkungan. Yang paling bagus sebetulnya infrastruktur bendungan atau waduk menjadi opsi yang paling mewakili untuk tujuan pendayagunaan serta pengelolaan SDA.

“Saya kira BJPSDA memiliki peran vital di upaya konservasi untuk melestarikan dan menjaga ketahanan SDA, bukan untuk lainnya, ” kata Pitojo. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 mengenai Sumber Daya Air menegaskan, BJPSDA merupakan iuran yang dibebankan cuma kepada pemanfaat SDA untuk kebutuhan industri, seperti energi, air menelan, pertanian, dan industri, tidak buat kebutuhan pokok dan sosial, serupa pertanian rakyat. (Ant/OL-14)