Promo menarik pada undian Data SGP 2020 – 2021.

PEMBAHASAN Tasfir Al-Mishbah kali ini masuk di dalam surat baru, yakni surah Ash-Saff yang berarti kaum. Di awal surat yang memiliki 14 ayat tersebut, Allah kembali mengingatkan kalau semua makhluk yang ada di langit ataupun dunia senantiasa bertasbih kepada-Nya.

Bertasbih ini dalam arti seluruh yang ada di langit dan bumi tunduk & patuh kepada ketentuan Tuhan, yang dalam bahasa ilmuwan sering disebut hukum alam, tetapi dalam bahasa keyakinan disebut hukum Allah. Disebutkan, dalam pandangan Islam, daerah berjalan dengan kehendak Tuhan, tetapi hukum alam itu tidak selalu mutlak semacam itu karena kehendak Allah bisa saja mengubahnya.

Bagian selanjutnya menjelaskan mengenai perilaku kaum muslimin yang bertanya amal apa yang disukai Allah dan berjanji dirinya akan melakukannya. Namun, ternyata setelah Allah menjawab dengan disukainya ialah berjihad cara fisik maupun jiwa, tak ada satu pun karakter yang mengerjakannya.

Allah mengecam hal tersebut. Bagi kira-kira ulama, ayat ini berdasarkan bahwa pemenuhan janji tersebut bersifat mutlak. Allah tak menyukai orang yang menyampaikan janji, padahal tidak bakal dilakukan.

Ayat selanjutnya, Allah bahkan menjelaskan beberapa situasi yang disukai-Nya, yakni Tuhan suka orang yang mengamalkan baik walaupun kepada orang yang bersalah kepadanya, Allah mencintai orang yang bertakwa, Allah suka dengan karakter yang bersabar, Allah suka orang yang menyucikan diri baik jasmani dan rohani, dan Allah suka orang yang bertawakal.

Allah menghargai ucapan umatnya dari absurd dan tekad. Jika dasar benar-benar berniat melakukannya, Allah bahkan akan turut membantunya. Oleh karena itu, tersedia yang mengatakan niat seorang mukmin lebih baik dari amalannya. Hal ini lantaran beberapa alasan, di antaranya, perdana, Allah tidak menerima suatu amalan yang niatnya tidak karena allah. Kedua, Tuhan bisa menilai sesuatu itu ialah kebaikan walaupun belum mewujudkannya.

Ketiga, niat tersebut produk manusia, sedangkan wujudnya ialah amal. Kelihatannya keluaran manusia, padahal ada bantuan Allah. Hal ini sepadan halnya dengan puasa dengan mana arti niat serta tekad untuk melakukannya ialah karena Allah.

Pada ayat ketiga dijelaskan, konsekuensi lantaran kecaman Allah itu ialah kebencian di sisi Allah. Sama seperti halnya nafsu, Allah tidak menjelaskan secara detail bentuk atau sanksi kebencian itu, tapi kaum ulama menyebutkan kebencian tersebut ialah yang terberat.

Dianggap, firman Allah menyebutkan, asalkan Allah mencintainya, penglihatannya yaitu bagian dari penglihatan-Ku, pendengaran yang digunakannya ialah telinga-Ku, tangan yang digunakan untuk menggenggam ialah tangan-Ku, suku yang dilakukannya untuk mengarungi ialah kaki-Ku.