GAJAH Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah mengisbatkan dalam Undang-Undang Cipta Kerja (Ciptaker) atau Omnibus Law tidak mengeksploitasi pekerja. Hal ini berkaitan dengan waktu lembur bagi pekerja.

Ia mengutarakan, waktu lembur dalam aturan terbaru tersebut ialah empat jam ataupun menjadi 12 jam waktu kegiatan per hari. Aturan tersebut diklaim masih mengikuti ketentuan lembaga buruh internasional atau ILO.

Baca selalu:   Jaga Nilai Tukar, BI Pertahankan Suku Bunga Rujukan

“Saya kira ini batas kemampuan bergerak orang 12 jam. Jika kemudian ditambah lembur sesungguhnya ini sedang ketentuan ILO. Tidak lah betul kalah pekerja akan di memakai. Karena sesungguhnya waktu kerja tersebut pun berdasarkan kesepakatan, ” nyata Ida dalam webinar ‘UU Menjadikan Kerja Untuk Siapa’ yang digelar oleh Maju Perempuan Indonesia (MPI), Jakarta Senin (12/10).

Soal waktu lembur dalam UU Ciptaker memang bertambah dari aturan sebelumnya. Dalam UNDANG-UNDANG Nomor 13 Tahun 2003 mengenai Ketenagakerjaan disebutkan, bahwa waktu lembur tidak boleh melebihi 3 (tiga) jam per hari atau 14 jam dalam seminggu.

“Kalah pekerjanya tidak mau lembur, pengusaha tidak bisa memaksakan, ” tegas Ida.

Menaker juga memaparkan soal pengaturan jam kegiatan karyawan. Ia mengatakan aturan itu tetap mengacu pada UU 13 Tahun 2003 tentang Ketanagakerjaan, yaitu 7 jam selama sehari atau 40 jam selama seminggu untuk 6 hari kerja.

Untuk pengaturan masa kerja 8 jam sehari ataupun 40 jam seminggu untuk lima hari bekerja, Ida menjelaskan hal itu untuk pekerjaan yang memiliki waktu fleksibel.

Baca juga:   Pelonggaran PSBB Beri Buah Jangka Pendek pada Perekonomian

“Di UU Cipta Kerja kita menampung pekerjaan yang sifatnya kondisi tidak sanggup mengikuti ketentuan tersebut perlu diatur waktu kerja khusus, misalnya ekonomi digital yang waktunya fleksibel, ” tutur Ida.

Ia juga menegaskan, negeri tidak menghilangkan hak cuti praktisi, yakni cuti hamil dan bocor. “Pengusaha wajib memberikan waktu cuti dan libur. UU cipta kegiatan tidak menghilangkan cuti haid & melahirkan, ” pungkas Ida. (OL-6)