TERDAKWA peristiwa korupsi pengelolaan keuangan dan uang investasi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Benny Tjokrosaputro mengajukan banding arah vonis pidana penjara seumur tumbuh dari majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta.

Permohonan banding Komisaris PT Hanson International itu sudah terdaftar dalam Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tertanggal Selasa (27/10) kemarin. Kuasa hukum Benny, Bob Hasan juga menegaskan keputusan pihaknya dalam melakukan banding.

“Kami sudah ajukan banding, kaerna jelas seluruh diputuskan secara asumsi, baik perbuatannya maupun kerugian negara, ” kata Bob kepada Media Indonesia, Selasa (27/10).

Majelis hakim yang diketuai oleh Rosmina memutus bahwa Benny beriringan terdakwa lainnya, yakni Komisaris Pokok PT Trada Alam Minera Heru Hidayat, mantan Direktur Keuangan PT AJS Hary Prasetyo, mantan Direktur Utama PT AJS Hendrisman Rahim, mantan Kepala Divisi Investasi & Keuangan PT AJS Syahmirwan, serta mantan Dirut PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto telah merugikan keuangan negara sebesar Rp16, 807 triliun.

Kerugian tersebut terjadi karena pembicaraan pembelian PT AJS saham melalaikan 21 reksadana dan 13 Direktur Investasi yang telah dimanipulasi dengan metode pump and dump.

Baca juga:   Hari Tersebut, Sugi Nur akan Ajukan Penangguhan Penahanan

Selain itu, pembelian empat saham direct, yaitu saham BJBR (Bank Jawa Barat), PPRO (PP Properti), SMBR (Semen Batu Raja), & SMRU (SMR Utama) dengan haluan mengintervensi harga tidak memberi makna investasi dan memenuhi kebutuhan likuiditas dalam menunjang perusahaan plat abang tersebut.

Selain vonis pidana penjara seumur hidup, Benny juga diharuskan menutup pidana uang pengganti sebesar Rp6, 078 triliun. Jika ia tak dapat membayar dalam waktu tertinggi sebulan setelah adanya kekuatan norma tetap, harta bendanya akan dirampas untuk negara.

Selain Benny, SIPP PN Jakarta Pusat juga menginformasikan kalau permohonan banding telah dilakukan sebab Syahmirwan, Hendrisman, Hary, dan Joko. Permohonan banding keempatnya telah dilakukan pada Selasa, (13/10) silam.

Sementara permohonan banding dari Heru belum tampak. Kendati demikian, penasihat hukum Heru, Soesilo, menyebut pihaknya kemungkinan gede akan mengajukan banding. Ia kesal dengan putusan hakim yang sesuai dengan tuntutan JPU sebelumnya sebab tidak mempertimbangkan saham-saham di AJS yang masih bisa dijual.

“Terkait kesialan negara masih ada saham-saham yang ada di Jiwasraya kemudian tidak dikurangkan sama pusan majelis tersebut. Nah ini yang menjadi keberatan adn kita akan ajukan banding, ” kata Soesilo. (OL-7)