BPP Menjadi Tempat Pelatihan Training of  Farmer Climate Smart  Agriculture

KABUPATEN  Subang  menggelar Training of Farmers (ToF) Climate Smart Agriculture (CSA) Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP ) di Kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang, Jawa Barat, di 14-16 September 2020.  

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengutarakan ToF CSA SIMURP harus diikuti dengan sungguh-sungguh.

“Kegiatan ToF CSA SIMURP memberikan banyak manfaat buat petani dan penyuluh. Ikuti kegiatan ini dengan serius sehingga bisa diaplikasikan di pertanian, ” tutur Mentan SYL, Jumat (18/9).

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi, mengatakan ToF CSA SIMURP menjelma bagian untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) pertanian.

“Kebangkitan pertanian harus diawali dari kebangkitan SDM pertanian, yaitu petani, penyuluh, petani milenial, kelompok tani, dan gabungan kelompok tani.   Peningkatan SDM pertanian bisa dilakukan dengan bermacam-macam pelatihan salah satunya dengan ToF, ” tutur Dedi.

Dedi Nursyamsi mengatakan, pelatihan tersebut  merupakan rangkaian kegiatan SIMURP yang dilaksanakan pada  tahun 2020. Lokasi TOF terdiri sebab kelas yang bertempat di BPP (Balai Pelatihan Pertanian) dan lahan praktek dilahan sawah petani.  

“Kegiatan SIMURP merupakan salah satu arah dari Kostratani dalam rangka pembangunan pertanian di kecamatan, ” jelasnya.

Selain TOF CSA, BPP pelaksana kegiatan SIMURP juga mendapatkan fasilitas IT yang mendukung pelaksanaan pelatihan pertanian di BPP.  

Dedi mengatakan, wadah dan fasilitas IT yang cakap menjadi faktor pendukung dalam pelaksanaan TOF CSA menjadi lebih molek. Peserta TOF CSA juga disuguhi hiburan tontonan video tutorial teknologi CSA SIMURP sebagai media pelatihan lain selain materi ceramah.

Kegiatan praktek CSA yang dilaksanakan di tanah sawah petani antara lain ialah praktek alat mekanisasi pertanian bagaikan traktor roda empat  dan transplanter (alat tanam padi). Para peserta milenial banyak yang tertarik dalam membuktikan praktek alat mekanisasi tersebut.  

Pada kesan dan pesan peserta TOF disampaikan oleh salah satu pengikut milenialnya, bahwa mereka sangat berterima kasih kepada BPP atas pelaksanaan TOF-nya.  

“Awalnya saya pikir pelatihannya akan membosankan, tapi dengan penyampaian materi secara kreatif, isi pelatihan jadi lebih menarik. Dan aku berharap akan lebih banyak dijalankan pelatihan pertanian untuk petani milenial. ” jelas Dedi.

Pada akhir kesibukan, dirumuskan rencana tindak lanjut dengan disepakati para peserta TOF, yaitu tidak membakar jerami, pemupukan spesifik berdasarkan perangkat uji tanah sawah (PUTS), penggunaan bagan warna daun (BWD), penggunaan pupuk organic, menerapkan jajar tanam legowo, penerapan empat  prinsip pengendali hama terpadu (PHT), dan penggunaan pestisida nabati jadi alternatif  PHT.

“Juga melakukan penyiangan dengan alat gasrok atau weeder, Menerapkan prinsip panen yang baik buat mengurangi kehilangan hasil/losses, serta meningkatkan Ideks pertanaman (IP), ” jelasnya. (RO/OL-09)